Senin, 31 Maret 2014

Laporan Pendahuluan Morbus Hansen atau Kusta

Laporan Pendahuluan Morbus Hansen atau Kusta


Senin, 31 Maret 2014
By : Deviisw


A. Pengertian
     Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, peyebabnya ialah Mycrobacterium Leprae yang intra seluler obligat (Adhi Djuanda, 2010 : 71).     Kusta (lepra atau morbus hansen) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. Leprae) (Mansjoer A, 2008 : 65).


B. Etiologi
    Mycrobacterum Leprae merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraselular, menyerang saraf perifer, kulit dan organ seperti mukosa saluran nafas bagian atas, hati dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah diri M. Leprae 12-21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari-40 tahun (Mansjoer A, 2008 : 65).


C. Klasifikasi    

     Karakteristik tipe kusta ini antara lain :
1.   Kusta tipe PB (Pauci Baciler)
      Jika jumlah bercak pada kulit berjumlah 1-5, bulu pada bercak rontok, ukuran bercak kecil dan besar, bercak terdistribusi secara asimetris, bercak biasanya kering dan kasar, batas bercak tegas, kehilangan rasa pada bercak selalu ada dan jelas, terdapat central healing (penyembuhan di tengah), cacat biasanya terjadi dini dan asimetris, penebalan syaraf terjadi dini, infiltrat, nodulus dan perdarahan hidung tidak ada dan BTA negatif.

2.   Kusta tipe MB (Multi Baciler) 

      Memiliki karakteristik jumlah bercak banyak, ukuran bercak kecil-kecil, bercak terdistribusi simetris, bercak biasanya halus dan berkilat, batas bercak kurang tegas, kehilangan rasa pada bercak biasanya tidak jelas dan terjadi pada stadium lanjut, bulu pada bercak tidak rontok, infiltrat, perdarahan hidung ada dan kadang-kadang tidak ada, ciri khusus terdapat punced out lesion (lesi berbentuk seperti kue donat), madarosis, ginecomastia, hidung pelana, suara parau, penebalan syaraf pada tahap lanjut, cacat terjadi pada stadium lanjut dan BTA positif.

D. Cara penularan
     Cara penularan yang pasti belum diketahui, tetapi menurut sebagian besar ahli melalui saluran pernafasan (inhalasi) dan kulit (kontak langsung yang lama dan erat). Kuman mencapai permukaan kulit melalui folikel rambut, kelenjar keringat dan diduga juga melalui air susu ibu. Tempat implantasi tidak selalu menjadi tempat lesi pertama (Mansjoer A, 2008 : 65). Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah :

1.        Usia                      : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa
2.        Jenis kelamin      : Laki-laki lebih banyak dijangkiti
3.        Ras                       : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak di jangkiti
4.        Kesadaran sosial: Umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah
5.        Lingkungan          : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat (Zulkifli, 2003). E. Pencegahan


E. Pencegahan 
  1.   Pencegahan Primer
    - penyuluhan kesehatan pencegahan primer dapat dilakukan pada kelompok orang sehat yang belum terkena penyakit kusta dan memiliki resiko tertular karena berada disekitar atau dekat dengan penderita seperti keluarga dan tetangga penderita, yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang kusta.- Pemberian Imunisasi
    2.    Pencegahan Sekunder
           Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan pengobatan pada penderita kusta. pengobatan penderita kusta untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit penderita, mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan. (Anggraeni, 2011)
    3.    Pencegahan Tersier
    - pencegahan cacat kusta
           Penemuan dini penderita sebelum   cacat, pengobatan secara teratur dan penanganan reaksi untuk mencegah terjadinya kerusakan fungsi saraf. Perawatan diri sendiri untuk mencegah luka dan perawatan mata, tangan atau kaki yang sudah mengalami gangguan fungsi saraf (Anggraeni, 2011).
    - rehabilitasi Kusta
           Tujuan rehabilitasi adalah penyandang cacat secara umum dapat dikondisikan sehingga memperoleh kesetaraan, kesempatan dan integrasi sosial dalam masyarakat yang akhirnya mempunyai kualitas hidup yang lebih baik. Rehabilitasi terhadap penderita kusta meliputi :
a.      Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur.
b.     Bedah rekonstruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat tekanan yang berlebihan
c.    Bedah plastik untuk mengurangi perluasan infeksi
d.    Terapi okupsi (kegiatan hidup sehari-hari ) dilakukan bila gerakan normal terbatas pada tangan
e.    Konseling dilakukan untuk mengurangi depresi pada penderita cacat (Anggraeni, 2011)